Ketika Ketakutan Mengalahkan Akal Sehat Orang Tua

Terkini 27 Jul 2026 20:09 9 min read 38 views By Redaksi

Share berita ini

Ketika Ketakutan Mengalahkan Akal Sehat Orang Tua
Time-Indonesia.my.id,- 27 Juli 2026Empat bulan lamanya seorang anak perempuan berusia tujuh tahun tetap terbaring di atas tempat tidurnya setelah kehi...

Time-Indonesia.my.id,- 27 Juli 2026


Empat bulan lamanya seorang anak perempuan berusia tujuh tahun tetap terbaring di atas tempat tidurnya setelah kehilangan nyawa. Kedua orang tuanya meyakini sang anak belum meninggal, melainkan hanya tertidur panjang dan suatu hari akan kembali membuka mata. Tragedi yang terungkap di Kabupaten Temanggung pada 2021 itu bukan sekadar perkara pidana, melainkan cermin rapuhnya literasi kesehatan, berpikir kritis, dan perlindungan anak ketika rasa takut mengalahkan akal sehat.


Di balik setiap tragedi yang menimpa anak, selalu ada rangkaian keputusan yang mengantarkan peristiwa itu terjadi. Tidak ada orang tua yang sejak awal menginginkan anaknya terluka, apalagi kehilangan nyawa. Namun sejarah berulang kali menunjukkan bahwa cinta saja tidak selalu cukup. Ketika kasih sayang tidak disertai pengetahuan, keberanian bertanya, dan kemauan memeriksa kebenaran, keputusan yang diambil justru dapat berujung pada malapetaka. Kasus Aisyah menjadi salah satu contoh paling menyayat tentang bagaimana niat untuk menolong dapat berubah menjadi bencana ketika rasa takut mengambil alih kendali.


Peristiwa tersebut bermula ketika kedua orang tua Aisyah menghadapi perubahan perilaku putri mereka. Alih-alih terlebih dahulu mencari penjelasan melalui layanan kesehatan atau berkonsultasi dengan tenaga profesional, mereka memilih meminta pertolongan kepada orang yang diyakini memiliki kemampuan spiritual. Dari sanalah muncul keyakinan bahwa sang anak sedang mengalami gangguan makhluk gaib dan harus segera menjalani ritual tertentu agar keluarga terhindar dari musibah. Keputusan itu menjadi titik awal yang mengubah persoalan keluarga menjadi tragedi kemanusiaan.


Dalam masyarakat yang masih kuat memegang tradisi lisan, figur yang dianggap memiliki kemampuan khusus sering kali memperoleh kepercayaan yang sangat besar. Ucapan mereka diterima sebagai kebenaran tanpa melalui proses verifikasi. Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga ditemukan di berbagai negara dengan tingkat literasi kesehatan yang belum merata. Ketika seseorang dianggap memiliki otoritas, banyak orang cenderung mengabaikan pertanyaan kritis dan menerima setiap anjuran sebagai solusi yang paling benar. Dalam ilmu psikologi, kecenderungan ini dikenal sebagai authority bias, yakni dorongan untuk mempercayai seseorang semata karena dianggap memiliki kewibawaan atau keahlian tertentu.


Pada titik inilah akal sehat perlahan mulai tersingkir. Ketakutan yang terus dipupuk membuat seseorang tidak lagi menimbang risiko secara rasional. Apa yang sebelumnya tampak tidak masuk akal berubah menjadi sesuatu yang dianggap wajar demi memperoleh harapan keselamatan. Orang tua yang semula berusaha menyelamatkan anak akhirnya justru mengikuti tindakan yang membahayakan karena percaya bahwa penderitaan sesaat akan menghasilkan kesembuhan. Sayangnya, keyakinan tersebut tidak pernah diuji dengan pendekatan ilmiah maupun pertimbangan medis yang memadai.


Hasil penyelidikan aparat penegak hukum kemudian menunjukkan bahwa proses yang diyakini sebagai upaya penyembuhan itu justru berakhir dengan hilangnya nyawa seorang anak. Pemeriksaan forensik menyimpulkan bahwa kematian korban disebabkan oleh asfiksia akibat tenggelam. Fakta tersebut menjadi penegasan bahwa setiap tindakan yang mengancam keselamatan jiwa, apa pun alasan dan keyakinan yang melatarbelakanginya, tetap memiliki konsekuensi hukum. Negara menempatkan hak hidup anak sebagai hak yang harus dilindungi dan tidak boleh dikorbankan oleh praktik apa pun yang membahayakan keselamatan.


Kasus ini juga mengingatkan bahwa persoalan kesehatan maupun perubahan perilaku anak tidak dapat disederhanakan hanya melalui satu sudut pandang. Perubahan sikap, emosi, atau kondisi fisik anak dapat dipengaruhi banyak faktor, mulai dari gangguan kesehatan, perkembangan psikologis, tekanan lingkungan, hingga kondisi neurologis. Karena itu, setiap gejala memerlukan penanganan yang berbasis ilmu pengetahuan agar penyebabnya dapat diketahui secara tepat. Mengabaikan proses diagnosis yang benar bukan hanya memperbesar risiko salah penanganan, tetapi juga dapat membuka jalan bagi terjadinya tragedi yang sebenarnya dapat dicegah.


Melihat lebih dalam, tragedi ini sesungguhnya bukan hanya menggambarkan kegagalan satu keluarga dalam mengambil keputusan, melainkan juga memperlihatkan adanya persoalan yang lebih luas di tengah masyarakat. Literasi kesehatan, literasi hukum, dan kemampuan berpikir kritis masih belum merata. Ketika informasi yang diperoleh lebih banyak berasal dari cerita turun-temurun dibandingkan penjelasan ilmiah, masyarakat menjadi lebih mudah menerima klaim yang tidak pernah diuji kebenarannya. Dalam situasi seperti itu, rasa takut sering berkembang lebih cepat daripada kemampuan untuk melakukan verifikasi.


Psikologi mengenal istilah confirmation bias, yaitu kecenderungan seseorang untuk lebih mudah menerima informasi yang sesuai dengan keyakinan yang telah dimilikinya, sementara informasi yang bertentangan justru diabaikan. Fenomena ini dapat menjelaskan mengapa seseorang tetap mempertahankan keyakinannya meskipun fakta-fakta yang muncul telah menunjukkan hal sebaliknya. Semakin lama seseorang berinvestasi secara emosional terhadap sebuah keyakinan, semakin sulit pula baginya untuk mengakui bahwa keputusan yang diambil ternyata keliru.


Keadaan tersebut dapat diperparah oleh tekanan sosial. Dalam lingkungan tertentu, orang yang mempertanyakan keyakinan yang telah lama berkembang justru dianggap tidak menghormati tradisi atau kurang memiliki kepercayaan. Akibatnya, suara yang mengajak berpikir rasional sering kali tenggelam oleh tekanan kelompok. Padahal, berpikir kritis bukan berarti menolak nilai-nilai budaya maupun spiritual, melainkan memastikan bahwa setiap tindakan yang dilakukan tidak membahayakan keselamatan manusia.


Peristiwa di Temanggung juga mengajarkan bahwa perlindungan anak tidak dapat dibebankan hanya kepada keluarga. Negara, tenaga kesehatan, pendidik, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga lingkungan sekitar memiliki tanggung jawab moral untuk membangun sistem perlindungan yang mampu mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak. Ketika seorang anak menunjukkan perubahan perilaku yang tidak biasa, keluarga seharusnya memperoleh akses yang mudah terhadap layanan kesehatan, konsultasi psikologi, maupun pendampingan sosial sehingga tidak merasa harus mencari jalan keluar yang berisiko.


Di sisi lain, tragedi tersebut menunjukkan pentingnya membedakan antara penghormatan terhadap keyakinan pribadi dan tindakan yang membahayakan keselamatan. Setiap warga negara memiliki kebebasan untuk memeluk agama dan menjalankan ibadah sesuai keyakinannya. Namun, kebebasan itu tidak dapat dijadikan dasar untuk melakukan tindakan yang menghilangkan hak hidup, hak tumbuh kembang, dan hak memperoleh perlindungan bagi seorang anak. Prinsip inilah yang menjadi landasan berbagai ketentuan hukum mengenai perlindungan anak di Indonesia.


Kasus ini juga mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keagamaan tidak seharusnya dipertentangkan. Banyak ajaran agama justru mendorong umatnya untuk mencari ilmu, menjaga kehidupan, serta menghindari tindakan yang dapat mencelakakan diri sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu, ketika seseorang menghadapi persoalan kesehatan atau perubahan perilaku anak, langkah yang bijaksana adalah mengutamakan pemeriksaan medis dan berkonsultasi dengan tenaga profesional. Pendampingan spiritual dapat menjadi penguat batin, tetapi tidak boleh menggantikan penanganan yang dibutuhkan berdasarkan ilmu pengetahuan.


Perkembangan teknologi informasi sebenarnya membuka peluang besar bagi masyarakat untuk memperoleh pengetahuan yang lebih baik. Berbagai informasi mengenai kesehatan anak, psikologi keluarga, maupun layanan konsultasi kini semakin mudah diakses. Tantangannya adalah kemampuan masyarakat untuk memilah informasi yang dapat dipertanggungjawabkan dari berbagai klaim yang belum memiliki dasar ilmiah. Literasi digital menjadi bagian penting dari upaya melindungi keluarga dari pengaruh informasi yang menyesatkan.


Tragedi Aisyah akhirnya menjadi pelajaran yang melampaui batas ruang dan waktu. Peristiwa ini bukan sekadar kisah duka sebuah keluarga di Temanggung, melainkan peringatan bagi seluruh masyarakat bahwa keputusan yang diambil dalam keadaan panik dan penuh ketakutan harus selalu diuji dengan akal sehat, ilmu pengetahuan, serta pertimbangan keselamatan. Setiap anak berhak memperoleh perlindungan terbaik, bukan hanya dari kekerasan yang disengaja, tetapi juga dari keputusan yang lahir karena ketidaktahuan.


Pertanyaan paling penting yang perlu dijawab bukanlah mengapa tragedi itu terjadi, melainkan bagaimana memastikan peristiwa serupa tidak pernah terulang. Setiap kasus kekerasan terhadap anak selalu menyisakan ruang pembelajaran bagi masyarakat. Jika pembelajaran itu diabaikan, maka setiap tragedi hanya akan menjadi berita yang sesaat mengundang perhatian sebelum akhirnya dilupakan, tanpa menghasilkan perubahan yang berarti.


Pencegahan harus dimulai dari lingkungan yang paling dekat dengan anak, yaitu keluarga. Orang tua perlu memahami bahwa perubahan perilaku anak bukanlah sesuatu yang patut langsung dikaitkan dengan kesimpulan yang belum memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Anak yang tampak murung, mudah marah, sulit diatur, sering menyendiri, atau mengalami perubahan fisik tertentu dapat dipengaruhi oleh beragam faktor. Karena itu, langkah pertama yang paling aman adalah mencari penjelasan melalui pemeriksaan medis, psikologis, atau konsultasi dengan tenaga profesional yang memiliki kompetensi di bidangnya.


Di tingkat masyarakat, penguatan literasi kesehatan perlu menjadi agenda bersama. Sekolah, puskesmas, rumah sakit, organisasi kemasyarakatan, lembaga keagamaan, hingga media massa memiliki peran penting dalam menyebarkan informasi yang benar mengenai kesehatan anak dan kesehatan jiwa. Edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan akan membantu masyarakat membangun kebiasaan untuk memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayainya. Semakin baik kualitas literasi masyarakat, semakin kecil pula peluang berkembangnya praktik-praktik yang dapat membahayakan keselamatan anak.


Media massa juga memikul tanggung jawab besar dalam memberitakan kasus-kasus yang melibatkan anak. Pemberitaan sebaiknya tidak berhenti pada sisi sensasional atau keunikan sebuah peristiwa, tetapi mampu menghadirkan konteks yang lebih luas mengenai faktor penyebab, langkah pencegahan, serta solusi yang dapat dilakukan masyarakat. Jurnalisme yang berorientasi pada kepentingan publik tidak hanya menyampaikan fakta, melainkan juga membantu pembaca memahami akar persoalan sehingga tragedi serupa dapat dicegah.


Dari sisi penegakan hukum, perkara ini memperlihatkan bahwa perlindungan anak merupakan prinsip yang tidak dapat dikompromikan. Setiap tindakan yang mengakibatkan hilangnya nyawa atau membahayakan keselamatan anak tetap memiliki konsekuensi hukum, tanpa memandang alasan yang melatarbelakanginya. Putusan pengadilan dalam perkara tersebut menjadi penegasan bahwa hak hidup dan hak memperoleh perlindungan merupakan hak dasar setiap anak yang wajib dijaga oleh orang tua, masyarakat, dan negara.


Namun demikian, penegakan hukum hanyalah langkah terakhir ketika pencegahan telah gagal dilakukan. Upaya yang jauh lebih penting adalah membangun masyarakat yang memiliki kemampuan berpikir kritis, menghargai ilmu pengetahuan, dan tidak mudah menerima setiap klaim tanpa melakukan verifikasi. Sikap kritis bukanlah bentuk penolakan terhadap nilai-nilai agama, budaya, maupun tradisi. Sebaliknya, sikap kritis merupakan ikhtiar untuk memastikan bahwa setiap keputusan yang diambil benar-benar membawa kemaslahatan serta tidak menimbulkan mudarat bagi orang lain.


Dalam kehidupan sehari-hari, setiap keluarga juga perlu membangun budaya berdiskusi sebelum mengambil keputusan penting. Ketika menghadapi persoalan kesehatan, tidak ada salahnya meminta pendapat kedua dari tenaga medis lain, berkonsultasi dengan psikolog, atau berdialog dengan tokoh agama yang memiliki pemahaman komprehensif mengenai hubungan antara ikhtiar, ilmu pengetahuan, dan nilai-nilai keagamaan. Semakin banyak sudut pandang yang dipertimbangkan, semakin kecil kemungkinan seseorang terjebak dalam keputusan yang didasarkan semata-mata pada rasa takut.


Tragedi Aisyah menjadi pengingat bahwa anak merupakan amanah yang harus dijaga dengan kasih sayang, kebijaksanaan, dan tanggung jawab. Perlindungan terhadap anak bukan hanya diwujudkan melalui pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, dan pendidikan, tetapi juga melalui keberanian orang dewasa untuk mengakui keterbatasan dirinya serta mencari pertolongan kepada pihak yang benar-benar memiliki kompetensi. Tidak ada orang tua yang mengetahui segala hal, dan tidak ada salahnya meminta bantuan ketika menghadapi persoalan yang tidak mampu diselesaikan sendiri.


Feature ini pada akhirnya tidak dimaksudkan untuk menghakimi sebuah keluarga yang telah menjalani proses hukum, melainkan mengajak masyarakat mengambil hikmah dari sebuah peristiwa yang menyisakan luka mendalam. Di balik setiap tragedi selalu tersimpan pelajaran yang sangat berharga. Ketika rasa takut menguasai pikiran, akal sehat harus tetap menjadi penuntun. Ketika keyakinan mendorong seseorang untuk bertindak, keselamatan manusia harus tetap menjadi ukuran utama. Dan ketika seorang anak membutuhkan pertolongan, ilmu pengetahuan, kasih sayang, serta perlindungan hukum harus berjalan beriringan agar setiap anak Indonesia dapat tumbuh, berkembang, dan menjalani masa depannya dengan aman, sehat, serta bermartabat.


Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Komentar (0)

Belum ada komentar.

TIME Indonesia