Workshop Integrated Farming Perkuat Kemandirian Yayasan

Terkini 27 Jul 2026 20:27 6 min read 77 views By Redaksi

Share berita ini

Workshop Integrated Farming Perkuat Kemandirian Yayasan
Time-Indonesia.my.id,- Kudus, Minggu (26/7/2026) — Upaya membangun kemandirian ekonomi yayasan melalui pengembangan sistem pertanian terpadu (Integrat...

Time-Indonesia.my.id,- Kudus, Minggu (26/7/2026) — Upaya membangun kemandirian ekonomi yayasan melalui pengembangan sistem pertanian terpadu (Integrated Farming) terus diperkuat. Paguyuban Petani Persaudaraan Pati Raya (PPR) Banana Garden (BG) Farm menggulirkan Program Wakaf Nabung Ayam sebagai langkah nyata menciptakan sumber pendapatan berkelanjutan bagi lembaga sosial dan yayasan. Program tersebut dipadukan dengan pelatihan, penguatan jaringan, serta pemberdayaan masyarakat agar tercipta ketahanan pangan yang mandiri, produktif, dan berkelanjutan.


Kegiatan Workshop Integrated Farming untuk Penguatan Yayasan berlangsung di Resto Kirana, Jalan Lingkar Utara Peganjaran, Kabupaten Kudus, Minggu (26/7/2026). Lebih dari 30 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka terdiri atas pengurus Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA), anggota Paguyuban Petani Persaudaraan Pati Raya (PPR) Banana Garden (BG) Farm, serta perwakilan petani organik dari berbagai daerah di wilayah Muria Raya.


Workshop menghadirkan dua narasumber, yakni Rochmad Taufiq, alumnus Bayu Sehat Mandiri (BSM) Angkatan 37 sekaligus Koordinator Paguyuban Petani Persaudaraan Pati Raya (PPR) Banana Garden (BG) Farm, bersama Mr. Shireng, alumnus Bayu Sehat Mandiri (BSM) Angkatan 40. Keduanya memaparkan berbagai strategi membangun ketahanan pangan berbasis masyarakat melalui pendekatan Integrated Farming yang mengintegrasikan sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan pengolahan limbah menjadi satu kesatuan sistem yang saling mendukung.


Dalam paparannya, Rochmad Taufiq menegaskan bahwa tantangan dunia saat ini tidak hanya berkaitan dengan persoalan ekonomi, tetapi juga menyangkut krisis pangan, perubahan iklim, keterbatasan energi, hingga ketidakpastian global yang berdampak langsung terhadap keberlangsungan lembaga sosial. Menurutnya, yayasan tidak dapat terus bergantung pada bantuan donatur semata, melainkan harus mulai membangun fondasi ekonomi yang kuat melalui usaha-usaha produktif.


"Yayasan tidak boleh hanya bergantung pada donatur. Kemandirian harus dibangun melalui silaturahim yang kuat, ilmu yang terus berkembang, dan Integrated Farming yang produktif serta berkelanjutan," ujar Rochmad Taufiq di hadapan peserta workshop.


Ia menjelaskan, konsep Integrated Farming merupakan sistem yang menghubungkan seluruh potensi sumber daya dalam satu siklus produksi. Limbah peternakan dimanfaatkan menjadi pupuk organik, limbah pertanian diolah sebagai pakan ternak, kolam menghasilkan ikan, sementara lahan dimanfaatkan untuk memproduksi berbagai kebutuhan pangan. Pola tersebut dinilai mampu menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan efisiensi dan produktivitas.


Selain menyampaikan teori, workshop juga menjadi ruang berbagi pengalaman antarpeserta. Berbagai yayasan memaparkan capaian mereka dalam mengembangkan usaha produktif.


Yayasan Bakti Pertiwi Kudus tercatat memiliki populasi ayam terbanyak, yakni mencapai 108 ekor. Sementara itu, Yayasan Mitra Kesejahteraan Insani (YMKI) Jepara berhasil mengembangkan budidaya ikan hingga sekitar 3.000 ekor. Dari Kabupaten Pati, peserta memperkenalkan keberhasilan mengembangkan usaha pupuk organik dan budidaya kangkung yang telah memberikan nilai ekonomi bagi lembaga.


Berbagai pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa konsep pemberdayaan berbasis pertanian terpadu dapat diterapkan sesuai dengan potensi daerah masing-masing. Tidak hanya menghasilkan pangan untuk memenuhi kebutuhan internal yayasan dan santri, tetapi juga membuka peluang usaha baru yang mampu menopang pembiayaan operasional lembaga.


Salah satu agenda penting dalam workshop adalah peluncuran Program Wakaf Nabung Ayam yang digagas oleh Paguyuban Petani Persaudaraan Pati Raya (PPR) Banana Garden (BG) Farm. Program tersebut menjadi inovasi pemberdayaan ekonomi melalui hibah ayam petelur kepada yayasan dan pegiat sosial agar berkembang menjadi unit usaha produktif.


Pada tahap awal, Paguyuban Petani Persaudaraan Pati Raya (PPR) Banana Garden (BG) Farm menyerahkan paket hibah berupa lima ekor ayam betina dan satu ekor ayam jantan kepada Yamisra Blora, Yayasan Mitra Kesejahteraan Insani (YMKI) Jepara, serta Yayasan Bakti Pertiwi Kudus. Program serupa akan dilanjutkan kepada pegiat sosial di Kabupaten Pati dan Yayasan An Naba Rembang setelah kesiapan kandang selesai.


"Ayamnya sudah tersedia, tinggal menunggu kandang selesai. Insya Allah pada bulan Agustus seluruh hibah Nabung Ayam akan kami serahkan," kata Rochmad Taufiq.


Menurutnya, Program Wakaf Nabung Ayam tidak sekadar memberikan bantuan ternak, tetapi menjadi investasi sosial jangka panjang bagi yayasan. Melalui program tersebut, yayasan diharapkan memiliki sumber pemasukan rutin dari hasil penjualan telur maupun pengembangan populasi ayam.


"Tujuan Wakaf Nabung Ayam ini adalah agar biaya operasional yayasan dapat lebih mandiri dan tidak selamanya bergantung kepada donatur. Selain itu, santri-santri binaan juga akan belajar memiliki keterampilan beternak dan bertani sebagai bekal kehidupan mereka," jelasnya.


Dalam sesi penguatan kelembagaan, peserta juga diajak membangun konsep Silaturahim kepada Middle Up sebagai strategi memperluas jejaring kemitraan. Melalui pendekatan tersebut, yayasan didorong menjalin hubungan yang lebih erat dengan berbagai kalangan, termasuk pelaku usaha, akademisi, tokoh masyarakat, dan komunitas produktif untuk membuka akses pasar, memperkuat kolaborasi, sekaligus memperluas dampak dakwah sosial.


Workshop turut memperkenalkan Program Dokter Tanaman sebagai upaya mencetak kader pendamping pertanian organik di setiap wilayah. Kader tersebut diharapkan mampu menjadi pusat konsultasi bagi petani dalam mengatasi berbagai persoalan budidaya, meningkatkan produktivitas lahan, serta mengembangkan pertanian ramah lingkungan.


Selama pelaksanaan workshop, suasana diskusi berlangsung interaktif. Peserta tidak hanya menyimak materi, tetapi juga aktif berdialog mengenai strategi pengembangan pertanian organik, manajemen usaha yayasan, pemasaran hasil panen, hingga pengelolaan limbah agar memiliki nilai tambah ekonomi.


Di akhir kegiatan, seluruh peserta menyepakati komitmen bersama untuk memperkuat tiga pilar utama dalam membangun yayasan yang mandiri, yakni memperluas ukhuwah melalui silaturahim, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan, serta memperkuat ekonomi melalui Integrated Farming, Program Wakaf Nabung Ayam, dan berbagai usaha produktif yang halal serta berkelanjutan.


Tepat pukul 16.15 WIB, usai seluruh rangkaian workshop berakhir, Pembina Paguyuban Petani Persaudaraan Pati Raya (PPR) Banana Garden (BG) Farm, Dr. Carto Nuryanto, bersama Dr. Sukresna, S.H., M.Hum., memberikan motivasi kepada seluruh peserta agar tetap istiqamah mengembangkan berbagai program pemberdayaan yang telah dirintis.


"Tetap semangat. Program Tadabur Alam dan Wakaf Nabung Ayam akan terus kita dukung bersama demi lahirnya yayasan-yayasan yang mandiri dan bermanfaat bagi masyarakat," ujar Dr. Carto Nuryanto.


Ia juga menyampaikan rencana pembangunan Mushola Baitul Jannah di kawasan Kebun Paguyuban Petani Persaudaraan Pati Raya (PPR) Banana Garden (BG) Farm yang akan difungsikan sebagai pusat Ngaji Tani.


"Insya Allah tidak lama lagi Mushola Baitul Jannah di Kebun Paguyuban Petani Persaudaraan Pati Raya (PPR) Banana Garden (BG) Farm, tempat Ngaji Tani, akan segera berdiri. Semoga menjadi pusat ibadah, pembelajaran, dan lahirnya generasi yang berilmu, berakhlak, serta mencintai pertanian," tuturnya.


Penutupan workshop ditandai dengan sesi foto bersama seluruh peserta sebagai simbol semangat kolaborasi lintas daerah. Momentum tersebut menjadi penegasan bahwa penguatan yayasan tidak hanya dibangun melalui bantuan finansial, tetapi juga melalui penguasaan ilmu, perluasan jejaring, serta pengembangan usaha produktif berbasis potensi lokal.


Melalui sinergi antarlembaga, para peserta optimistis bahwa gerakan Integrated Farming yang dipadukan dengan Program Wakaf Nabung Ayam akan menjadi model pemberdayaan yang mampu melahirkan yayasan-yayasan yang mandiri, tangguh, serta berdaya saing. Model ini diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan pangan internal lembaga, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan sosial yang lebih luas bagi masyarakat.


Semangat yang dibangun dalam workshop tersebut dirangkum dalam satu pesan yang menjadi penguat arah gerakan bersama, yakni: "Dari silaturahim lahir sinergi, dari sinergi lahir keberkahan. Dari pertanian terpadu lahir kemandirian, dan dari kemandirian lahir kemaslahatan umat."


(Red)

Komentar (0)

Belum ada komentar.

TIME Indonesia